Sabtu, 23 Februari 2019

Contoh cerita pendek

Selamat datang.

Mari manfaatkan sedikit waktu untuk membaca sepenggal kisah di balik lika-liku kehidupan karya reni.

Karya yang masih memiliki banyak kekurangan dalam alur cerita, ketidaksempuraan dalam penulisan kata maupun kaidah kebahasaan. Maka dari itu, silahkan tinggalkan komentar, kritik ataupun saran, itu yang sangat saya harapkan.


TRUST






“Kamu yakin mau kerja?” ucap bang ian ketika sera baru saja sampai di dapur untuk mengambil segelas air. Haus. Itulah yang dirasakan sera ketika pulang sekolah.

“Yakin bang, emang kenapa?” sera balik bertanya, sambil mengisi gelas dengan air.

“Terus gimana sekolah kamu ra?” ujar bang ian sendu.

“Ya enggak gimana-gimana bang, jalanin aja dulu lagi pula kan sera baru mau interview hari ini!” jelas sera.

“Maafin abang ya ra, abang gagal jadi abang yang baik buat kamu!” ucap bang ian pada sera.

“Abang gak boleh ngomong kaya gitu” setelah mengucapkan itu sera langsung meneguk habis air minumnya.

            “Bapak udah minum obat bang?” Tanya sera lagi setelah air minumnya diteguk habis.

            “Udah” jawab bang ian.

            “Terus sekarang bapak lagi apa?” Tanya sera lagi menanyakan keadaan bapaknya.

            “Kamu ga mau liat sendiri bapak lagi apa?” jawaban bang ian yang malah bertanya balik.

            “Yaudah deh iya, nanti sera liat sendiri  bapak lagi apa” bang ian hanya terkekeh mendengar penuturan sera .

            “ Tapi sera mohon ya bang, jangan kasih tahu ke bapak soal sera bekerja!” Bang ian hanya diam saja.

            “Abang kan tau sendiri bapak pasti ga akan ngizinin sera bekerja!” jelas sera lagi memohon pada abangnya namun abangnya lagi-lagi diam seolah enggan menuruti keinginan sera.


            “Bang…. Bang ian ga usah merasa bersalah karena ga bisa bantu biaya sekolahnya sera. Cukup bang ian untuk menghidupi keluarga dan membelikan obat untuk bapak saja sera udah bersyukur kok. Bang ian juga gak perlu khawatir sama sekolah sera kalo nanti sera diterima bekerja di restorant itu, sera akan tetap fokus dan lanjut sekolah kok! Jadi bang ian ga perlu khawatir ya. Dan sera mohon untuk sekarang bapak jangan tahu dulu soal sera bekerja, oke bang!” jelas sera panjang lebar sambil melenggang pergi meninggalkan ian yang masih termenung di dapur.

# # #

Jam menunjukan pukul 15:19. Sera sudah siap dengan  fisik dan mentalnya untuk melakukan interview dengan pemilik restaurant. Setelah bercermin cukup lama, sera berdoa kepada tuhan semoga ia diberi kelancaran dan diberi yang terbaik.

Setelah semuanya siap tak lupa sera berpamitan pada bapak dan abang satu-satunya itu, mamah sera sudah lama pergi meninggalkannya untuk selamanya.

“Permisi pak”suara sera bergetar diiringi ketukan pintu yang terdengar menggema dalam ruangan tersebut. 

Ya, sera sudah berada tepat di depan pintu pemilik restaurant yang sera lamar itu.

“Silahkan masuk!” terdengar suara dari balik pintu yang sera ketuk tadi.

Perlahan sera membuka pintu itu dan menampilkan sesosok pria paruh baya yang kelihatannya sudah mempunyai anak berumur dewasa.

“Permisi pak saya sera yang mengajukan surat lamaran pekerjaan kemarin” ucap sera gugup.

“Ohhh ya silahkan duduk!” pria itu mempersilahkan sera duduk di kursi yang terletak di hadapannya.

“Terimakasih pak” ucap sera santun.

“Kalau saya tidak salah, apa benar kamu masih sekolah?” tanyanya to the point.

“Benar pak, saya masih sekolah.” Jawab sera.

“Kalau boleh saya tahu, mengapa kamu bekerja sedangkan kamu masih sekolah?” Tanyanya pada sera.

“Saya ingin membantu meringankan beban kakak saya pak” jawab sera jujur.

“Memangnya kemana ayah dan ibu kamu?” Tanya bapak itu kembali.

“Bapak saya sakit pak, mamah saya sudah lama meninggal” jawab sera sendu.

 “Sekarang kamu sekoalah dimana?” Tanya beliau.

“Di SMA TARUNA pak” Pak burhan mengangguk-nganggukan kepalanya.

“Kelas berapa?”

“Kelas 12 pak”

“Apa sekolahmu tidak akan terganggu jika kamu bekerja?”

“Insya allah tidak pak, saya akan membagi waktu saya sebisa mungkin!” mendengar ucapan tegas sera bapak pemilik restourant merasa salut kepada sera di usianya yang masih remaja, sera harus bekerja untuk membiayai biaya sekolahnya sendiri, berbeda dengan kebanyakan remaja yang lain yang manja akan harta orang tua. Di tambah lagi sera adalah seorang perempuan.

“Kalau begitu silahkan kamu bekerja mulai hari ini di café anak saya!” sera terkejut mendengar ucapan bapak pemilik restaurant itu. Sera kan melamar kerja di restaurant, kok di tempatkan pekerjaannya di café.

Sera mengerutkan keningnya bingung akan ucapan bapak tadi.

“Restaurant saya sebenarnya sedang tidak membutuhkan karyawan, tapi saya melihat dari beberapa berkas surat lamaran, kamu yang paling muda. Saya ingin tahu apa benar ada anak sekolah yang ingin bekerja? Dan ternyata benar, melihat keyakinan kamu saya salut karena kamu berani dan tidak gengsi!” sera tersenyum kecil mendengar penuturan bapak itu.

“Kamu tahu letak café milik anak saya?” Tanya bapak itu, padahal sera baru saja ingin menanyakan letak tempat pekerjaan barunya itu.

“Tidak pak” jawab sera

“Tidak jauh dari sini kok, kamu tahu café yang berada di jalan seranggi?”

Sera mengangguk. Sera tahu karena di jalan itu hanya ada satu-satunya café yang selalu ramai.

“Nah di situ tempat kamu bekerja, café itu yang megang anak laki-laki saya yang paling besar, usianya sama seperti kamu. Nanti kamu bekerja di bagian kasir, saya percaya kamu orang yang jujur. Maka dari itu semoga kamu tidak mengecewakan saya dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan saya!” amanah dari bapak pemilik restaurant itu.

“Iya insya allah saya akan menjaga amanah bapak. Terima kasih yang sebanyak-banyak nya ya pak” ucap sera sambil menyalami tangan bapak pemilik restaurant.

“Dan satu lagi, sekolah yang harus kamu utamakan bukan pekerjaan. Kamu bisa mulai kerja setelah pulang sekolah hingga jam 8 malam dan hari libur dimulai dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Sekali lagi ingat, sekolah harus kamu tuntaskan. Jangan sampai kamu mengesampingkan tugas sekolah hanya karena bekerja” amanah kedua kalinya dari bapak pemilik restaurant tersebut.

Sera mengangguk sambil tersenyum.

Sera merasa bahagia sekali. Entah harus bagaimana cara sera berterima kasih kepada tuhan, hingga sera bisa dipertemukan dengan orang sebaik pak burhan bapak pemilik restaurant itu. Yang terpenting sekarang adalah sera harus banyak-banyak bersyukur kepada tuhan dan memegang amanah pak burhan supaya sera tidak mengecewakan pak burhan, bapak pemilik restaurant itu.


SELESAI





Saya ucapkan terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya. 

Tinggalkan jejak berupa komentar, kritik dan saran.

16 komentar: