Selamat datang.
Mari manfaatkan sedikit waktu untuk membaca sepenggal kisah di balik lika-liku kehidupan karya reni.
Karya yang masih memiliki banyak kekurangan dalam alur cerita, ketidaksempuraan dalam penulisan kata maupun kaidah kebahasaan. Maka dari itu, silahkan tinggalkan komentar, kritik ataupun saran, itu yang sangat saya harapkan.
Mari manfaatkan sedikit waktu untuk membaca sepenggal kisah di balik lika-liku kehidupan karya reni.
Karya yang masih memiliki banyak kekurangan dalam alur cerita, ketidaksempuraan dalam penulisan kata maupun kaidah kebahasaan. Maka dari itu, silahkan tinggalkan komentar, kritik ataupun saran, itu yang sangat saya harapkan.
“Kamu yakin mau kerja?” ucap bang ian ketika sera
baru saja sampai di dapur untuk mengambil segelas air. Haus. Itulah yang
dirasakan sera ketika pulang sekolah.
“Yakin bang, emang kenapa?” sera balik bertanya,
sambil mengisi gelas dengan air.
“Terus gimana sekolah kamu ra?” ujar bang ian sendu.
“Ya enggak gimana-gimana bang, jalanin aja dulu lagi
pula kan sera baru mau interview hari ini!” jelas sera.
“Maafin abang ya ra, abang gagal jadi abang yang
baik buat kamu!” ucap bang ian pada sera.
“Abang gak boleh ngomong kaya gitu” setelah
mengucapkan itu sera langsung meneguk habis air minumnya.
“Bapak udah minum obat bang?” Tanya
sera lagi setelah air minumnya diteguk habis.
“Udah” jawab bang ian.
“Terus sekarang bapak lagi apa?”
Tanya sera lagi menanyakan keadaan bapaknya.
“Kamu ga mau liat sendiri bapak lagi
apa?” jawaban bang ian yang malah bertanya balik.
“Yaudah deh iya, nanti sera liat
sendiri bapak lagi apa” bang ian hanya
terkekeh mendengar penuturan sera .
“ Tapi sera mohon ya bang, jangan
kasih tahu ke bapak soal sera bekerja!” Bang ian hanya diam saja.
“Abang kan tau sendiri bapak pasti
ga akan ngizinin sera bekerja!” jelas sera lagi memohon pada abangnya namun
abangnya lagi-lagi diam seolah enggan menuruti keinginan sera.
“Bang…. Bang ian ga usah merasa
bersalah karena ga bisa bantu biaya sekolahnya sera. Cukup bang ian untuk
menghidupi keluarga dan membelikan obat untuk bapak saja sera udah bersyukur
kok. Bang ian juga gak perlu khawatir sama sekolah sera kalo nanti sera
diterima bekerja di restorant itu, sera akan tetap fokus dan lanjut sekolah
kok! Jadi bang ian ga perlu khawatir ya. Dan sera mohon
untuk sekarang bapak jangan tahu dulu soal sera bekerja, oke bang!” jelas sera
panjang lebar sambil melenggang pergi meninggalkan ian yang masih termenung di
dapur.
# # #
Jam
menunjukan pukul 15:19. Sera sudah siap dengan fisik dan mentalnya untuk melakukan interview dengan
pemilik restaurant. Setelah bercermin cukup lama, sera berdoa kepada tuhan
semoga ia diberi kelancaran dan diberi yang terbaik.
Setelah
semuanya siap tak lupa sera berpamitan pada bapak dan abang satu-satunya itu,
mamah sera sudah lama pergi meninggalkannya untuk selamanya.
“Permisi
pak”suara sera bergetar diiringi ketukan pintu yang terdengar menggema dalam
ruangan tersebut.
Ya, sera sudah berada tepat di depan pintu pemilik restaurant
yang sera lamar itu.
“Silahkan
masuk!” terdengar suara dari balik pintu yang sera ketuk tadi.
Perlahan
sera membuka pintu itu dan menampilkan sesosok pria paruh baya yang
kelihatannya sudah mempunyai anak berumur dewasa.
“Permisi
pak saya sera yang mengajukan surat lamaran pekerjaan kemarin” ucap sera gugup.
“Ohhh
ya silahkan duduk!” pria itu mempersilahkan sera duduk di kursi yang terletak
di hadapannya.
“Terimakasih
pak” ucap sera santun.
“Kalau
saya tidak salah, apa benar kamu masih sekolah?” tanyanya to the point.
“Benar
pak, saya masih sekolah.” Jawab sera.
“Kalau
boleh saya tahu, mengapa kamu bekerja sedangkan kamu masih sekolah?” Tanyanya
pada sera.
“Saya
ingin membantu meringankan beban kakak saya pak” jawab sera jujur.
“Memangnya
kemana ayah dan ibu kamu?” Tanya bapak itu kembali.
“Bapak
saya sakit pak, mamah saya sudah lama meninggal” jawab sera sendu.
“Sekarang kamu sekoalah dimana?” Tanya beliau.
“Di
SMA TARUNA pak” Pak burhan mengangguk-nganggukan kepalanya.
“Kelas
berapa?”
“Kelas
12 pak”
“Apa
sekolahmu tidak akan terganggu jika kamu bekerja?”
“Insya
allah tidak pak, saya akan membagi waktu saya sebisa mungkin!” mendengar ucapan
tegas sera bapak pemilik restourant merasa salut kepada sera di usianya yang
masih remaja, sera harus bekerja untuk membiayai biaya sekolahnya sendiri,
berbeda dengan kebanyakan remaja yang lain yang manja akan harta orang tua. Di
tambah lagi sera adalah seorang perempuan.
“Kalau
begitu silahkan kamu bekerja mulai hari ini di café anak saya!” sera terkejut
mendengar ucapan bapak pemilik restaurant itu. Sera kan melamar kerja di restaurant,
kok di tempatkan pekerjaannya di café.
Sera
mengerutkan keningnya bingung akan ucapan bapak tadi.
“Restaurant
saya sebenarnya sedang tidak membutuhkan karyawan, tapi saya melihat dari
beberapa berkas surat lamaran, kamu yang paling muda. Saya ingin tahu apa benar
ada anak sekolah yang ingin bekerja? Dan ternyata benar, melihat keyakinan kamu
saya salut karena kamu berani dan tidak gengsi!” sera tersenyum kecil mendengar
penuturan bapak itu.
“Kamu
tahu letak café milik anak saya?” Tanya bapak itu, padahal sera baru saja ingin
menanyakan letak tempat pekerjaan barunya itu.
“Tidak
pak” jawab sera
“Tidak
jauh dari sini kok, kamu tahu café yang berada di jalan seranggi?”
Sera
mengangguk. Sera tahu karena di jalan itu hanya ada satu-satunya café yang selalu
ramai.
“Nah
di situ tempat kamu bekerja, café itu yang megang anak laki-laki saya yang
paling besar, usianya sama seperti kamu. Nanti kamu bekerja di bagian kasir,
saya percaya kamu orang yang jujur. Maka dari itu semoga kamu tidak
mengecewakan saya dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan saya!” amanah dari bapak
pemilik restaurant itu.
“Iya
insya allah saya akan menjaga amanah bapak. Terima kasih yang sebanyak-banyak
nya ya pak” ucap sera sambil menyalami tangan bapak pemilik restaurant.
“Dan
satu lagi, sekolah yang harus kamu utamakan bukan pekerjaan. Kamu bisa mulai
kerja setelah pulang sekolah hingga jam 8 malam dan hari libur dimulai dari jam
9 pagi hingga jam 9 malam. Sekali lagi ingat, sekolah harus kamu tuntaskan.
Jangan sampai kamu mengesampingkan tugas sekolah hanya karena bekerja” amanah
kedua kalinya dari bapak pemilik restaurant tersebut.
Sera
mengangguk sambil tersenyum.
Sera
merasa bahagia sekali. Entah harus bagaimana cara sera berterima kasih kepada
tuhan, hingga sera bisa dipertemukan dengan orang sebaik pak burhan bapak
pemilik restaurant itu. Yang terpenting sekarang adalah sera harus
banyak-banyak bersyukur kepada tuhan dan memegang amanah pak burhan supaya sera
tidak mengecewakan pak burhan, bapak pemilik restaurant itu.
SELESAI
Saya ucapkan terima kasih yang
sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.
Tinggalkan jejak berupa
komentar, kritik dan saran.
Bagus bagus😍 sukses terus💙
BalasHapusBagus 😊😊😊
BalasHapusGood. Lanjutkan🤗👌
BalasHapusAhhh abang 😂
BalasHapusBagus sist lanjutkan 💚
Sukaaa😍 sukses Nnii💪
BalasHapusKerennn 😍
BalasHapusBagusss, suksessssss ya 😇😍
BalasHapusSukaaa😍 lanjutkan
BalasHapusCeritanya menginspirasi😇
BalasHapusSukses niw😍
BalasHapusSukaaaa, lanjutkan❤❤
BalasHapusSukaak😍
BalasHapusBagussss
BalasHapusGood👍ditunggu karya selanjutnya
BalasHapusBagusssss
BalasHapusBerbakatt lanjutkan
BalasHapus