Selasa, 26 Februari 2019

Novel



Selamat datang.

Ini lanjutan dari cerita pendek reni yang berjudul TRUST yang diperpanjang menjadi sebuah novel

Selamat membaca.

TRUST



CHAPTER 1 : FIRST DAY

 “Kamu yakin mau kerja?”. Ucap bang ian ketika sera baru saja sampai di dapur untuk mengambil segelas air. Haus. Itulah yang dirasakan sera ketika pulang sekolah.
“Yakin bang, emang kenapa?” sera balik bertanya, sambil mengisi gelas dengan air.
“Terus gimana sekolah kamu ra?” ujar bang ian sendu.
“Ya enggak gimana-gimana bang, jalanin aja dulu lagi pula kan sera baru mau interview hari ini!” jelas sera.
“Maafin abang ya ra, abang gagal jadi abang yang baik buat kamu!” ucap bang ian pada sera.
“Abang gak boleh ngomong kaya gitu” setelah mengucapkan itu sera langsung meneguk habis air minumnya.
            “Ayah udah minum obat bang?” Tanya sera lagi setelah air minumnya sudah diteguk habis.
            “Udah” jawab bang ian.
            “Terus sekarang ayah lagi apa?” Tanya sera lagi.
            “Kamu ga mau liat sendiri ayah lagi apa?” jawab bang ian bertanya balik.
            “Yaudah deh iya, nanti sera liat sendiri  ayah lagi apa” bang ian hanya terkekeh mendengar penuturan sera .
Setelah mengucapkan itu sera hendak meninggalkan abangnya untuk menuju kamar. Namun diurungkan, karena sera ingat akan mengucapkan sesuatu.
            “ Tapi sera mohon ya bang, jangan kasih tahu ke ayah soal sera bekerja!” Bang ian hanya diam saja atas permohonan sera.
            “Bang.. abang kan tau sendiri ayah pasti ga akan ngizinin sera bekerja!” jelas sera lagi memohon pada abangnya mencoba memberi pengertian namun lagi-lagi bang ian hanya terdiam. Seperti enggan menuruti permohonan sera.
            “Bang…. Bang ian jangan merasa bersalah karena ga bisa bantu biaya sekolahnya sera. Cukup bang ian untuk menghidupi keluarga dan membelikan obat untuk ayah saja sera udah bersyukur kok. Bang ian juga gak perlu khawatir sama sekolah sera kalo nanti sera diterima bekerja di restorant itu, sera akan tetap fokus dan lanjut sekolah kok! Jadi bang ian ga perlu khawatir ya. Dan sera mohon untuk sekarang ayah jangan tahu dulu soal sera bekerja, oke bang!” jelas sera panjang lebar sambil melenggang pergi meninggalkan ian yang masih tertegun di dapur atas ucapan yang baru saja dilontarkan oleh adik semata wayangnya itu .
---
Jam menunjukan pukul 15:19. Sera sudah siap dengan  fisik dan mentalnya untuk melakukan interview dengan pemilik restaurant. Setelah bercermin cukup lama, sera berdoa kepada tuhan semoga ia diberi kelancaran dan diberi yang terbaik.
Setelah semuanya siap tak lupa sera berpamitan pada ayah dan abang satu-satunya itu, ibu sera sudah lama pergi meninggalkan dunia untuk selamanya ketika sera masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Cukup memakan waktu sekitar dua puluh menit untuk sera sampai di tempat calon ia bekerja. Sera turun dari angkutan umum yang langsung disuguhi oleh bangunan restaurant tempatnya melamar pekerjaan. Ia berjalan untuk memasuki restaurant yang cukup ramai pengunjung dengan jantung yang berdegup tak karuan. Tak terlewat ia selalu memanjatkan doa di dalam hati.
Sera berdiri di depan pintu setelah di tuntun oleh salah satu karyawan di restaurant tersebut menuju ruang pemilik restaurant.
“Permisi pak”suara sera bergetar diiringi ketukan pintu yang terdengar menggema dalam ruangan tersebut. Ya, sera sudah berada tepat di depan pintu pemilik restaurant yang sera lamar itu.
“Silahkan masuk!” terdengar suara dari balik pintu yang sera ketuk tadi.
Perlahan sera membuka pintu itu dan menampilkan sesosok pria paruh baya yang kelihatannya sudah mempunyai anak berumur dewasa.
“Permisi pak saya sera yang mengajukan surat lamaran pekerjaan kemarin” ucap sera gugup.
“Ahhh ya silahkan duduk!” pria yang sedang duduk di kursi kerja itu mempersilahkan sera duduk di kursi yang terletak di hadapannya.
“Terimakasih pak” ucap sera santun seraya mengambil tempat duduk dihadapan sang pemilik restaurant dengan meja menjadi pembatas keduanya.
“Kalau saya tidak salah, apa benar kamu masih sekolah?” Tanya pria paruh baya itu langsung pada inti.
“Benar pak, saya masih bersekolah.” Jawab sera.
“Kalau boleh saya tahu, mengapa kamu bekerja sedangkan kamu masih bersekolah?” Tanya beliau.
“Saya ingin membantu meringankan beban kakak saya pak dengan membayar biaya sekolah sendiri” jawab sera jujur.
“Memangnya kemana ayah dan ibu kamu?” Tanya bapak itu kembali.
“Bapak saya sakit, ibu saya sudah lama meninggal” jawab sera sendu.
 “Sekolah dimana kamu sekarang?” Tanya beliau.
“Di SMA Kencana pak” pak billy hanya mengangguk-ngaggukan kepalanya.
“Kelas berapa?” Tanyanya lagi.
“Kelas dua belas” Pak billy tersenyum kecil hingga tak terlihat oleh sera.
“Apa sekolahmu tidak akan terganggu jika kamu bekerja?”
“Insya allah tidak pak, saya akan membagi waktu saya sebisa mungkin!” mendengar ucapan tegas dari gadis dengan rambut di cepol itu pak billy pemilik restourant merasa salut kepada sera di usianya yang masih remaja, sera harus bekerja untuk membiayai biaya sekolahnya sendiri, berbeda dengan kebanyakan remaja yang lain yang manja akan harta orang tua. Di tambah lagi sera adalah seorang perempuan.
“Kalau begitu silahkan kamu bekerja mulai hari ini di café anak saya!” sera terkejut mendengar ucapan pak billy, bapak pemilik restaurant. Sera melamar pekerjaan di restaurant ini. Mengapa ia di tempatkan pekerjaannya di tempat lain.
Sera mengerutkan keningnya bingung akan ucapan pak billy tadi. Seakan sadar akan kebingungan sera pak billy berucap kembali.
“Restaurant saya sebenarnya sedang tidak membutuhkan karyawan, saya sedang mencari karyawan untuk bekerja di café baru milik anak saya. Namun dari beberapa berkas pelamar yang cek, saya melihat kamu yang paling muda. Saya ingin tahu apa benar ada anak sekolah yang ingin bekerja? Dan ternyata benar, melihat keberanian kamu saya merasa salut, jarang sekali ada anak zaman sekarang yang mau bekerja seperti kamu!” sera hanya dapat tersenyum kecil mendengar penuturan pak billy tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu tahu letak café milik anak saya?” Tanya pak billy, padahal sera baru saja ingin menanyakan letak tempat pekerjaan barunya itu.
“Tidak pak” jawab sera setengah tersenyum.
“Tidak jauh dari sini kok, kamu tahu café yang berada di jalan seranggi?”
Sera mengangguk. Sera tahu di jalan itu ada sebuah café baru yang menjadi satu-satunya café yang selalu ramai karena letaknya yang strategis dan yang sera dengar menu makannya yang lengkap, enak dengan harga kantong pelajar.
“Nah di situ tempat kamu bekerja, café itu yang megang anak laki-laki saya yang paling besar, usianya sama seperti kamu. Nanti kamu bekerja di bagian kasir, saya percaya kamu orang yang jujur. Maka dari itu semoga kamu tidak mengecewakan saya dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan saya!” amanah dari pak billy, pemilik restaurant itu.
“Iya insya allah pak saya akan menjaga amanah bapak. Terima kasih yang sebanyak-banyak nya ya pak” ucap sera sambil menyalami tangan pak billy.
“Dan satu lagi, sekolah yang harus kamu utamakan bukan pekerjaan. Kamu bisa mulai kerja setelah pulang sekolah hingga jam 8 malam dan hari libur dimulai dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam, apa kamu keberatan?”
Sera menggeleng “tidak pak, saya tidak keberatan”.
“Sekali lagi ingat, sekolah harus kamu tuntaskan. Jangan sampai kamu mengesampingkan tugas sekolah hanya karena bekerja” amanah kedua kalinya dari bapak pemilik restaurant tersebut.
Sera mengangguk sambil tersenyum “baik pak” sera bangkit berdiri dan pak billy pun ikut berdiri.
“Ini kartu nama saya, hubungi saya jika diperlukan” ucap pak billy sambil menyodorkan kartu nama pada sera, sebelum sera membalikkan tubuhnya . Sera tersenyum menggangguk, lantas menerimanya.
“Terima kasih banyak pak, kalau begitu saya permisi” pamit sera.
Sera merasa bahagia sekali. Entah harus bagaimana cara sera berterima kasih kepada tuhan, hingga sera bisa dipertemukan dengan orang sebaik pak billy bapak pemilik restaurant itu. Yang terpenting sekarang sera harus banyak-banyak bersyukur kepada tuhan dan memegang amanah pak billy supaya sera tidak mengecewakan pak billy, bapak pemilik restaurant itu.

-oOo-


CHAPTER 2 : DO NOT THINK

Ini adalah hari kedua sera bekerja di café baru milik anaknya pak billy. Karena sekolah sera menerapkan system fullday school maka hari sabtu dan minggu adalah hari libur. Sesuai kesepakatan di awal bahwa ketika hari libur sera mulai bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam.
Jujur saja kemarin saat sera datang ke café ini ia sama sekali tidak bertemu dengan anaknya pak billy pemilik café tersebut. Sebegitu canggihnya teknologi masa kini untuk menyampaikan informasi dengan cepat. Hingga tanpa melakukan wawancara dengan pemilik café ini sera malah langsung disuruh bekerja di bagian kasir tempat transaksi pembayaran apabila pengunjung sudah selesai menikmati hidangan yang disajikan.
Hari libur, ketika teman-teman yang lainnya bersenang ria menghabiskan waktu tanpa tugas dengan jalan-jalan, shopping, hunting dan lain-lain. Berbeda dengan sera yang harus bekerja demi membayar uang iuran sekolah setiap bulannya.
“Aku harus semangat, aku gak boleh nyerah, aku harus bisa hidup mandiri” sera berjalan menuju café sambil menyemangati dirinya sendiri. Menarik dan menghembuskan nafas pertanda bahwa ia harus siap menghadapi segala hal yang akan terjadi kedepannya.
“Assalamualaikum…” sapa sera tak lupa senyum ceria menghiasi wajahnya ketika baru saja memasuki café, rupanya café sudah di buka oleh kang rio, manager di café ini.
“Waalaikumsalam…” jawab mereka serempak. Ya, disana sudah ada kak riri dan kak fani pelayan café yang sedang bersih-bersih mengelap meja, gelas dan piring. Jadi, sepertinya sera yang paling muda bekerja disini. Jika dilihat dari jabatannya sera juga tidak mengerti mengapa bisa ia ditempatkan oleh pak billy sebagai kasir mengingat dirinya adalah karyawan baru.
“Wahhh sera telat ya?” sera berbasa-basi sambil terkekeh.
“Enggak kok ra, orang masih jam 9, masih belum ada pengunjung” sambut kak fani. Sera mengangguk singkat sambil berjalan ke dapur untuk menyimpan tasnya dan mengambil alat-alat kebersihan.
Lagi-lagi sera harus bersyukur kepada tuhan, pegawai di café ini menyambut sera dengan hangat membuat sera betah bekerja di tempat ini.
Hari menjelang siang dan café mulai ramai pengunjung yang di dominasi oleh anak muda. Melihat kak riri dan kak fani kewalahan melayani para pengunjung. Membuat sera tak ingin tinggal diam melihat keduanya sibuk bolak-balik sampai keringat membasahi dahi kakak-kakaknya itu.
Lagi pula kasir sepi belum ada yang melakukan transaksi. Sera memutuskan untuk membantu melayani para pengunjung. Sera berjalan menuju dapur lalu melihat kak bila, kak doni dan kak pito yang juga sibuk membuat makanan serta minuman yang dipesan para pengunjung. Lalu sera kembali menuju kasir untuk mengambil buku menu serta bill untuk mencatat pesanan.
Mata sera tertuju pada meja yang terletak di pojok café seperti dugaannnya bahwa meja tersebut belum terlayani oleh kak riri ataupun kak fani. Sera berjalan ke arahnya. Disana ada sekitar tujuh laki-laki sedang bercanda gurau.
“Silahkan kak mau pesan apa?” sapa sera sopan ketika sudah sampai di meja tersebut sambil menyerahkan buku menu. Semua mata tertuju pada sera tak terkecuali orang yang duduk membelakangi sera pun ikut menoleh.
Sera terkejut bukan main ketika sorot matanya bertemu dengan sorot mata laki-laki yang ada dihadapannya. Cepat sadar, sera bersikap biasa sebagaimana mestinya, sebagaimana seorang pelayan ketika sedang melayani pengunjung. Setelah menuliskan berbagai macam pesanan dari ke tujuh laki-laki di hadapannya itu sera berbalik menuju dapur memberikan pesanan kepada koki disana.
Sepeninggal sera, aldan salah satu dari ke tujuh pria di meja itu bertanya “Sera, sejak kapan dia kerja disini?” Tanyanya pada akas, akas hanya mengangkat bahu acuh. Ia juga tidak tahu sejak kapan sera bekerja, di tempat ini pula. Melihat ekspresi akas yang datar membuat teman-temannya mengurungkan niat untuk bertanya lebih banyak lagi mengenai sera. Terlihat dari sorot mata akas yang sedang memikirkan sesuatu.
Sekembalinya sera ke meja besar yang dihuni oleh tujuh laki-laki tersebut sambil membawa nampan yang berisi minuman, camilan serta dissert. Tak ada yang memesan makanan berat. Karena sepertinya ke tujuh sohib tersebut hanya berencana untuk berkumpul dan nongkrong-nongkrong saja.
“Silahkan kak, selamat menikmati” ujar sera sopan setelah menurunkan semua minuman dan makanan yang ada di nampannya ke atas meja.
Sera berbalik untuk melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Lima langkah lagi sera sampai di tempat kasir namun tiba-tiba ada yang mencekal tangannya, menariknya menuju keluar café.
“Sejak kapan orang yang gue sayang kerja ditempat gue?” Tanya akas setelah keduanya sampai di area parkir café. Sera mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. Akas tersenyum melihat wajah kebingungan sera.
Akas memang sengaja tidak memberitahu banyak orang termasuk sera bahwa ia memiliki sebuah café. Hanya beberapa teman dekatnya saja yang tahu tentang akas yang mempunyai sebuah café.
Akas menyewa tempat untuk membuat café hasil dari uang tabungannya sendiri.
“Ini café gue, gue sewa tempat buat bikin café sambil sedikit-sedikit cari penghasilan sendiri” akas menjawab dengan santai lain halnya dengan sera yang terkejut dengan pernyataannya barusan.
“Hey…” akas menjetikkan jarinya di depan wajah sera untuk menyadarkan sera dari lamunannya “jadi sejak kapan lo kerja di tempat gue?” akas bertanya lagi.
            “Hah… ohhh… eumm baru kemarin” jawab sera setelah sadar. Akas mengangguk.
            “Kenapa kerja?” Tanya akas lagi.
            “Buat bayar uang sekolah sama sedikit bantu abang” sera jujur, lagi pula untuk apa berbohong.
            “Emang gak capek?” Tanya akas dengan senyum meremehkan. Sera menggeleng semangat, tak lupa mengukir sebuah senyuman di bibirnya.
            “Udah kelas dua belas loh ra? Mulai fokus ujian” akas mengingatkan sera.
            “Gak papa kok insyaallah aku bisa bagi waktu antara kerja dan belajar” jawab sera tanpa keraguan.
            Akas mengangguk “kalo gitu gue gak bisa maksa, asalkan lo gak melupakan kewajiban lo sebagai pelajar”.

-oOo-

CHAPTER 3 : BACK REVEALED

Tak terasa sudah 2 minggu sera bekerja di café ini. Sera sangat nyaman bekerja disini kak riri, kak fani, kak bila, kak doni dan kak pito sangat bersahabat dengan sera tak ada yang membencinya, mengingat dirinya karyawan baru dan langsung ditempatkan di bagian kasir tak sedikit orang yang merasa iri dengan sera. Namun tidak dengan kakak kakaknya ini mereka sangat baik kepada sera bahkan merangkulnya seperti memperlakukan adik sendiri.
Hari ini adalah hari sabtu. Dimana seperti biasa sera bekerja dimulai pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam. Sejak pagi tadi sera merasa tidak enak dengan hati dan pikirannnya, seperti ada yang mengganjal, entah apa itu sera tidak tahu. Ketika sedang melamun, sera dikejutkan oleh tangan  kak fani yang memegang salah satu bahunya.
“Lagi mikirin apa sih ra? Dari tadi pagi kakak perhatikan kamu melamun terus, ada masalah?” tanyak kak fani.
Sera hanya menggeleng lemah. Sera juga tidak tahu sedang memikirkan apa.
“Kalo ada masalah cerita sini sama kakak siapa tau kakak punya solusi, jangan dipendam sendirian” saran kak fani.
“Sera juga gak tau kak lagi mikirin apa, perasaan sera dari tadi pagi gak enak” sera mencoba berbagi pada kak fani apa yang sedang dirasakannya.
“Jangan terlalu dipikirkan…” ucapan kak fani terpotong ketika dering ponsel milik sera berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari bang ian.
Sera mengangkat telepon di luar café setelah pamit pada kak fani.
“Assalamualaikum, iya bang ada apa?” tanya sera ketika panggilannya sudah terhubung.
“Halo ra, waalaikumsalam, ra ayah masuk rumah sakit asam lambungnya kambuh” ucap bang ian yang membuat tubuh sera beku di tempat.
“Terus keadaan ayah sekarang gimana bang?” Tanya sera sambil tak sengaja menitikkan air mata.
Bagaimana bisa asam lambung ayahnya naik. Memangnya ayah sera sudah makan apa. Uang darimana untuk membayar biaya rumah sakit. Sera baru bekerja selama dua minggu sedangkan gaji pertama pun belum sera terima. Seputar itukah pertanyaan yang muncul dalam benak sera.
“Ayah masih ditangani dokter ra” jawab bang ian.
“Ya sudah sera ke rumah sakit sekarang bang” jawab sera sambil menghapus air matanya, berusaha menyembunyikan kesedihannya dari bang ian.
“Gak papa ra, ayah biar abang yang tunggu, kamu lanjut kerja aja”
“Gak bang sera pingin kesana” keukeuh sera.
“Ya sudah. Kalo gitu hati-hati ya ra”
“Iya bang” panggilan terputus.
Sera hendak berbalik menuju ke ruangan kang rio managernya, untuk meminta izin pulang serta ke dapur untuk mengambil tasnya. Namun, tak sengaja dirinya bertemu dengan akas yang baru saja datang dan hendak memasuki café.
“Ada apa ra?” Tanya akas seakan tahu kondisi sera.
“Ayah masuk rumah sakit, asam lambungnya kambuh. Aku izin ke rumah sakit ya kas?” sera meminta izin pada akas selaku pemilik café.
Akas mencerna ucapan sera lalu mengangguk “yaudah yuk gue anter ke rumah sakitnya” sera menggangguk.
---
Setibanya sera dan akas dirumah sakit tepat dengan dokter spesialis yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Dokter menjelaskan perihal penyakit lambung ayah. Dan syukurlah ayah masih bisa di tangani artinya asam lambungnya tidak begitu parah. Sera lega mendengarnya. Namun, ayah perlu di rawat inap guna mendapatkan perawatan yang lebih baik demi kesembuhannya.
            Sejujurnya sera ingin sekali ayah mendapatkan perawatan sebagimana mestinya. Namun, sera benar-benar tidak tahu bagaimana caranya ia untuk membayar biaya rumah sakit. Bang ian pun sama halnya dengan sera, ia sedang nganggur karena pekerjannya hanya seorang buruh, yang dicari saat sedang dibutuhkan.
            “Beri penanganan yang baik untuk kesembuhannya dok” kali ini akas yang berbicara. Membuat sera langsung menatap akas.
            “Baik kalau begitu, pasien akan di pindahkan ke kelas rawat inap, saya permisi”.
Setelah kepergian dokter sera menatap akas kembali.
“Gak usah mikirin soal biaya rumah sakit, gue punya tabungan kok” ucap akas seolah tahu bahwa sera meminta penjelasan.
“Tapi kas, gantiinya gimana nanti?”
“Gak usah dipikirin ra, yang penting ayah kamu sembuh” jawab akas.
“Makasih ya kas, nanti kalo gue dapat uang, gue segera bayar sama lo” ucap bang ian.
“Iya bang”
“Kalo gitu gue mau ke toilet dulu” pamit bang ian seraya melenggang pergi meninggalkan akas dan sera. Akas dan sera pun berjalan bersisian menuju tempat duduk.
“Makasih ya kas, maaf aku ngerepotin kamu, gaji aku kerja di café gak usah di bayar, aku nyicil itu buat gantiiin biaya rumah sakit bapak” pinta sera.
Akas berhenti berjalan membuat sera ikut berhenti lalu menggeleng menandakan bahwa ia tidak menyetuji ucapan gadis manis tersebut lalu menatapnya yang sedang berdiri di hadapannya sekarang, mengangkat kedua tangannya untuk memegang kedua bahu sera.
“Denger aku ra, aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu”
Perasaan sera becampur aduk antara bahagia dan terharu mendengar penuturan akas akan perasaannya. Hingga sera menitikkan air mata. Pasalnya, keduanya tidak memiliki hubungan karena sera yang merasa tahu diri, tidak pantas menjadi pacar seorang akas anak yang terlahir di keluarga berada sedangkan dirinya masih harus berusaha keras demi kelangsungan hidup.
Jujur, sera sudah menolak pengakuan akas akan perasaannya dan menyuruhnya untuk mencari wanita lain yang lebih pantas menjadi pacar akas. Namun akas menolak, ia dengan berbaik hati sabar menunggu jawaban sera yang tak kunjung terbalaskan.


SELESAI

###


Saya ucapkan terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya. 


Tinggalkan jejak berupa komentar, kritik dan saran.

10 komentar: