Selamat datang.
Ini lanjutan dari cerita pendek reni yang berjudul TRUST yang diperpanjang menjadi sebuah novel.
Selamat membaca.
Ini lanjutan dari cerita pendek reni yang berjudul TRUST yang diperpanjang menjadi sebuah novel.
Selamat membaca.
TRUST
CHAPTER 1 :
FIRST DAY
“Kamu yakin
mau kerja?”. Ucap bang ian ketika sera baru saja sampai di dapur untuk
mengambil segelas air. Haus. Itulah yang dirasakan sera ketika pulang sekolah.
“Yakin bang, emang kenapa?” sera balik bertanya,
sambil mengisi gelas dengan air.
“Terus gimana sekolah kamu ra?” ujar bang ian sendu.
“Ya enggak gimana-gimana bang, jalanin aja dulu lagi
pula kan sera baru mau interview hari ini!” jelas sera.
“Maafin abang ya ra, abang gagal jadi abang yang
baik buat kamu!” ucap bang ian pada sera.
“Abang gak boleh ngomong kaya gitu” setelah
mengucapkan itu sera langsung meneguk habis air minumnya.
“Ayah udah minum obat bang?” Tanya
sera lagi setelah air minumnya sudah diteguk habis.
“Udah” jawab bang ian.
“Terus sekarang ayah lagi apa?”
Tanya sera lagi.
“Kamu ga mau liat sendiri ayah lagi
apa?” jawab bang ian bertanya balik.
“Yaudah deh iya, nanti sera liat
sendiri ayah lagi apa” bang ian hanya
terkekeh mendengar penuturan sera .
Setelah mengucapkan itu sera hendak meninggalkan
abangnya untuk menuju kamar. Namun diurungkan, karena sera ingat akan
mengucapkan sesuatu.
“ Tapi sera mohon ya bang, jangan
kasih tahu ke ayah soal sera bekerja!” Bang ian hanya diam saja atas permohonan
sera.
“Bang.. abang kan tau sendiri ayah
pasti ga akan ngizinin sera bekerja!” jelas sera lagi memohon pada abangnya mencoba
memberi pengertian namun lagi-lagi bang ian hanya terdiam. Seperti enggan
menuruti permohonan sera.
“Bang…. Bang ian jangan merasa bersalah
karena ga bisa bantu biaya sekolahnya sera. Cukup bang ian untuk menghidupi keluarga
dan membelikan obat untuk ayah saja sera udah bersyukur kok. Bang ian juga gak
perlu khawatir sama sekolah sera kalo nanti sera diterima bekerja di restorant
itu, sera akan tetap fokus dan lanjut sekolah kok! Jadi bang ian ga
perlu khawatir ya. Dan sera mohon untuk sekarang ayah jangan tahu dulu soal
sera bekerja, oke bang!” jelas sera panjang lebar sambil melenggang pergi meninggalkan
ian yang masih tertegun di dapur atas ucapan yang baru saja dilontarkan oleh
adik semata wayangnya itu .
---
Jam
menunjukan pukul 15:19. Sera sudah siap dengan fisik dan mentalnya untuk melakukan interview dengan
pemilik restaurant. Setelah bercermin cukup lama, sera berdoa kepada tuhan
semoga ia diberi kelancaran dan diberi yang terbaik.
Setelah
semuanya siap tak lupa sera berpamitan pada ayah dan abang satu-satunya itu,
ibu sera sudah lama pergi meninggalkan dunia untuk selamanya ketika sera masih
duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Cukup
memakan waktu sekitar dua puluh menit untuk sera sampai di tempat calon ia
bekerja. Sera turun dari angkutan umum yang langsung disuguhi oleh bangunan
restaurant tempatnya melamar pekerjaan. Ia berjalan untuk memasuki restaurant
yang cukup ramai pengunjung dengan jantung yang berdegup tak karuan. Tak
terlewat ia selalu memanjatkan doa di dalam hati.
Sera
berdiri di depan pintu setelah di tuntun oleh salah satu karyawan di restaurant
tersebut menuju ruang pemilik restaurant.
“Permisi
pak”suara sera bergetar diiringi ketukan pintu yang terdengar menggema dalam
ruangan tersebut. Ya, sera sudah berada tepat di depan pintu pemilik restaurant
yang sera lamar itu.
“Silahkan
masuk!” terdengar suara dari balik pintu yang sera ketuk tadi.
Perlahan
sera membuka pintu itu dan menampilkan sesosok pria paruh baya yang
kelihatannya sudah mempunyai anak berumur dewasa.
“Permisi
pak saya sera yang mengajukan surat lamaran pekerjaan kemarin” ucap sera gugup.
“Ahhh
ya silahkan duduk!” pria yang sedang duduk di kursi kerja itu mempersilahkan
sera duduk di kursi yang terletak di hadapannya.
“Terimakasih
pak” ucap sera santun seraya mengambil tempat duduk dihadapan sang pemilik
restaurant dengan meja menjadi pembatas keduanya.
“Kalau
saya tidak salah, apa benar kamu masih sekolah?” Tanya pria paruh baya itu
langsung pada inti.
“Benar
pak, saya masih bersekolah.” Jawab sera.
“Kalau
boleh saya tahu, mengapa kamu bekerja sedangkan kamu masih bersekolah?” Tanya
beliau.
“Saya
ingin membantu meringankan beban kakak saya pak dengan membayar biaya sekolah
sendiri” jawab sera jujur.
“Memangnya
kemana ayah dan ibu kamu?” Tanya bapak itu kembali.
“Bapak
saya sakit, ibu saya sudah lama meninggal” jawab sera sendu.
“Sekolah dimana kamu sekarang?” Tanya beliau.
“Di
SMA Kencana pak” pak billy hanya mengangguk-ngaggukan kepalanya.
“Kelas
berapa?” Tanyanya lagi.
“Kelas
dua belas” Pak billy tersenyum kecil hingga tak terlihat oleh sera.
“Apa
sekolahmu tidak akan terganggu jika kamu bekerja?”
“Insya
allah tidak pak, saya akan membagi waktu saya sebisa mungkin!” mendengar ucapan
tegas dari gadis dengan rambut di cepol itu pak billy pemilik restourant merasa
salut kepada sera di usianya yang masih remaja, sera harus bekerja untuk
membiayai biaya sekolahnya sendiri, berbeda dengan kebanyakan remaja yang lain
yang manja akan harta orang tua. Di tambah lagi sera adalah seorang perempuan.
“Kalau
begitu silahkan kamu bekerja mulai hari ini di café anak saya!” sera terkejut
mendengar ucapan pak billy, bapak pemilik restaurant. Sera melamar pekerjaan di
restaurant ini. Mengapa ia di tempatkan pekerjaannya di tempat lain.
Sera
mengerutkan keningnya bingung akan ucapan pak billy tadi. Seakan sadar akan
kebingungan sera pak billy berucap kembali.
“Restaurant
saya sebenarnya sedang tidak membutuhkan karyawan, saya sedang mencari karyawan
untuk bekerja di café baru milik anak saya. Namun dari beberapa berkas pelamar
yang cek, saya melihat kamu yang paling muda. Saya ingin tahu apa benar ada
anak sekolah yang ingin bekerja? Dan ternyata benar, melihat keberanian kamu
saya merasa salut, jarang sekali ada anak zaman sekarang yang mau bekerja
seperti kamu!” sera hanya dapat tersenyum kecil mendengar penuturan pak billy
tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu
tahu letak café milik anak saya?” Tanya pak billy, padahal sera baru saja ingin
menanyakan letak tempat pekerjaan barunya itu.
“Tidak
pak” jawab sera setengah tersenyum.
“Tidak
jauh dari sini kok, kamu tahu café yang berada di jalan seranggi?”
Sera
mengangguk. Sera tahu di jalan itu ada sebuah café baru yang menjadi satu-satunya
café yang selalu ramai karena letaknya yang strategis dan yang sera dengar menu
makannya yang lengkap, enak dengan harga kantong pelajar.
“Nah
di situ tempat kamu bekerja, café itu yang megang anak laki-laki saya yang
paling besar, usianya sama seperti kamu. Nanti kamu bekerja di bagian kasir,
saya percaya kamu orang yang jujur. Maka dari itu semoga kamu tidak
mengecewakan saya dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan saya!” amanah dari pak billy,
pemilik restaurant itu.
“Iya
insya allah pak saya akan menjaga amanah bapak. Terima kasih yang
sebanyak-banyak nya ya pak” ucap sera sambil menyalami tangan pak billy.
“Dan
satu lagi, sekolah yang harus kamu utamakan bukan pekerjaan. Kamu bisa mulai
kerja setelah pulang sekolah hingga jam 8 malam dan hari libur dimulai dari jam
9 pagi hingga jam 9 malam, apa kamu keberatan?”
Sera
menggeleng “tidak pak, saya tidak keberatan”.
“Sekali
lagi ingat, sekolah harus kamu tuntaskan. Jangan sampai kamu mengesampingkan tugas
sekolah hanya karena bekerja” amanah kedua kalinya dari bapak pemilik
restaurant tersebut.
Sera
mengangguk sambil tersenyum “baik pak” sera bangkit berdiri dan pak billy pun
ikut berdiri.
“Ini
kartu nama saya, hubungi saya jika diperlukan” ucap pak billy sambil menyodorkan
kartu nama pada sera, sebelum sera membalikkan tubuhnya . Sera tersenyum
menggangguk, lantas menerimanya.
“Terima
kasih banyak pak, kalau begitu saya permisi” pamit sera.
Sera
merasa bahagia sekali. Entah harus bagaimana cara sera berterima kasih kepada
tuhan, hingga sera bisa dipertemukan dengan orang sebaik pak billy bapak
pemilik restaurant itu. Yang terpenting sekarang sera harus banyak-banyak bersyukur
kepada tuhan dan memegang amanah pak billy supaya sera tidak mengecewakan pak
billy, bapak pemilik restaurant itu.
-oOo-
CHAPTER 2 : DO NOT
THINK
Ini
adalah hari kedua sera bekerja di café baru milik anaknya pak billy. Karena
sekolah sera menerapkan system fullday school maka hari sabtu dan minggu adalah
hari libur. Sesuai kesepakatan di awal bahwa ketika hari libur sera mulai
bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam.
Jujur
saja kemarin saat sera datang ke café ini ia sama sekali tidak bertemu dengan
anaknya pak billy pemilik café tersebut. Sebegitu canggihnya teknologi masa
kini untuk menyampaikan informasi dengan cepat. Hingga tanpa melakukan
wawancara dengan pemilik café ini sera malah langsung disuruh bekerja di bagian
kasir tempat transaksi pembayaran apabila pengunjung sudah selesai menikmati
hidangan yang disajikan.
Hari
libur, ketika teman-teman yang lainnya bersenang ria menghabiskan waktu tanpa
tugas dengan jalan-jalan, shopping, hunting dan lain-lain. Berbeda dengan sera
yang harus bekerja demi membayar uang iuran sekolah setiap bulannya.
“Aku
harus semangat, aku gak boleh nyerah, aku harus bisa hidup mandiri” sera
berjalan menuju café sambil menyemangati dirinya sendiri. Menarik dan
menghembuskan nafas pertanda bahwa ia harus siap menghadapi segala hal yang akan
terjadi kedepannya.
“Assalamualaikum…”
sapa sera tak lupa senyum ceria menghiasi wajahnya ketika baru saja memasuki
café, rupanya café sudah di buka oleh kang rio, manager di café ini.
“Waalaikumsalam…”
jawab mereka serempak. Ya, disana sudah ada kak riri dan kak fani pelayan café
yang sedang bersih-bersih mengelap meja, gelas dan piring. Jadi, sepertinya sera
yang paling muda bekerja disini. Jika dilihat dari jabatannya sera juga tidak
mengerti mengapa bisa ia ditempatkan oleh pak billy sebagai kasir mengingat
dirinya adalah karyawan baru.
“Wahhh
sera telat ya?” sera berbasa-basi sambil terkekeh.
“Enggak
kok ra, orang masih jam 9, masih belum ada pengunjung” sambut kak fani. Sera
mengangguk singkat sambil berjalan ke dapur untuk menyimpan tasnya dan
mengambil alat-alat kebersihan.
Lagi-lagi
sera harus bersyukur kepada tuhan, pegawai di café ini menyambut sera dengan
hangat membuat sera betah bekerja di tempat ini.
Hari
menjelang siang dan café mulai ramai pengunjung yang di dominasi oleh anak
muda. Melihat kak riri dan kak fani kewalahan melayani para pengunjung. Membuat
sera tak ingin tinggal diam melihat keduanya sibuk bolak-balik sampai keringat
membasahi dahi kakak-kakaknya itu.
Lagi
pula kasir sepi belum ada yang melakukan transaksi. Sera memutuskan untuk
membantu melayani para pengunjung. Sera berjalan menuju dapur lalu melihat kak
bila, kak doni dan kak pito yang juga sibuk membuat makanan serta minuman yang
dipesan para pengunjung. Lalu sera kembali menuju kasir untuk mengambil buku
menu serta bill untuk mencatat pesanan.
Mata
sera tertuju pada meja yang terletak di pojok café seperti dugaannnya bahwa
meja tersebut belum terlayani oleh kak riri ataupun kak fani. Sera berjalan ke
arahnya. Disana ada sekitar tujuh laki-laki sedang bercanda gurau.
“Silahkan
kak mau pesan apa?” sapa sera sopan ketika sudah sampai di meja tersebut sambil
menyerahkan buku menu. Semua mata tertuju pada sera tak terkecuali orang yang
duduk membelakangi sera pun ikut menoleh.
Sera
terkejut bukan main ketika sorot matanya bertemu dengan sorot mata laki-laki
yang ada dihadapannya. Cepat sadar, sera bersikap biasa sebagaimana mestinya,
sebagaimana seorang pelayan ketika sedang melayani pengunjung. Setelah
menuliskan berbagai macam pesanan dari ke tujuh laki-laki di hadapannya itu
sera berbalik menuju dapur memberikan pesanan kepada koki disana.
Sepeninggal
sera, aldan salah satu dari ke tujuh pria di meja itu bertanya “Sera, sejak
kapan dia kerja disini?” Tanyanya pada akas, akas hanya mengangkat bahu acuh.
Ia juga tidak tahu sejak kapan sera bekerja, di tempat ini pula. Melihat
ekspresi akas yang datar membuat teman-temannya mengurungkan niat untuk
bertanya lebih banyak lagi mengenai sera. Terlihat dari sorot mata akas yang
sedang memikirkan sesuatu.
Sekembalinya
sera ke meja besar yang dihuni oleh tujuh laki-laki tersebut sambil membawa
nampan yang berisi minuman, camilan serta dissert. Tak ada yang memesan makanan
berat. Karena sepertinya ke tujuh sohib tersebut hanya berencana untuk
berkumpul dan nongkrong-nongkrong saja.
“Silahkan
kak, selamat menikmati” ujar sera sopan setelah menurunkan semua minuman dan
makanan yang ada di nampannya ke atas meja.
Sera
berbalik untuk melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Lima langkah lagi sera
sampai di tempat kasir namun tiba-tiba ada yang mencekal tangannya, menariknya
menuju keluar café.
“Sejak
kapan orang yang gue sayang kerja ditempat gue?” Tanya akas setelah keduanya
sampai di area parkir café. Sera mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. Akas
tersenyum melihat wajah kebingungan sera.
Akas
memang sengaja tidak memberitahu banyak orang termasuk sera bahwa ia memiliki
sebuah café. Hanya beberapa teman dekatnya saja yang tahu tentang akas yang
mempunyai sebuah café.
Akas
menyewa tempat untuk membuat café hasil dari uang tabungannya sendiri.
“Ini
café gue, gue sewa tempat buat bikin café sambil sedikit-sedikit cari
penghasilan sendiri” akas menjawab dengan santai lain halnya dengan sera yang
terkejut dengan pernyataannya barusan.
“Hey…”
akas menjetikkan jarinya di depan wajah sera untuk menyadarkan sera dari
lamunannya “jadi sejak kapan lo kerja di tempat gue?” akas bertanya lagi.
“Hah… ohhh… eumm baru kemarin” jawab sera setelah sadar.
Akas mengangguk.
“Kenapa kerja?” Tanya akas lagi.
“Buat bayar uang sekolah sama sedikit bantu abang” sera
jujur, lagi pula untuk apa berbohong.
“Emang gak capek?” Tanya akas dengan senyum meremehkan. Sera
menggeleng semangat, tak lupa mengukir sebuah senyuman di bibirnya.
“Udah kelas dua belas loh ra? Mulai fokus ujian” akas
mengingatkan sera.
“Gak papa kok insyaallah aku bisa bagi waktu antara kerja
dan belajar” jawab sera tanpa keraguan.
Akas mengangguk “kalo gitu gue gak bisa maksa, asalkan lo
gak melupakan kewajiban lo sebagai pelajar”.
-oOo-
CHAPTER 3 : BACK
REVEALED
Tak
terasa sudah 2 minggu sera bekerja di café ini. Sera sangat nyaman bekerja
disini kak riri, kak fani, kak bila, kak doni dan kak pito sangat bersahabat
dengan sera tak ada yang membencinya, mengingat dirinya karyawan baru dan
langsung ditempatkan di bagian kasir tak sedikit orang yang merasa iri dengan
sera. Namun tidak dengan kakak kakaknya ini mereka sangat baik kepada sera
bahkan merangkulnya seperti memperlakukan adik sendiri.
Hari
ini adalah hari sabtu. Dimana seperti biasa sera bekerja dimulai pukul 9 pagi
hingga pukul 9 malam. Sejak pagi tadi sera merasa tidak enak dengan hati dan
pikirannnya, seperti ada yang mengganjal, entah apa itu sera tidak tahu. Ketika
sedang melamun, sera dikejutkan oleh tangan
kak fani yang memegang salah satu bahunya.
“Lagi
mikirin apa sih ra? Dari tadi pagi kakak perhatikan kamu melamun terus, ada
masalah?” tanyak kak fani.
Sera
hanya menggeleng lemah. Sera juga tidak tahu sedang memikirkan apa.
“Kalo
ada masalah cerita sini sama kakak siapa tau kakak punya solusi, jangan
dipendam sendirian” saran kak fani.
“Sera
juga gak tau kak lagi mikirin apa, perasaan sera dari tadi pagi gak enak” sera
mencoba berbagi pada kak fani apa yang sedang dirasakannya.
“Jangan
terlalu dipikirkan…” ucapan kak fani terpotong ketika dering ponsel milik sera
berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari bang ian.
Sera
mengangkat telepon di luar café setelah pamit pada kak fani.
“Assalamualaikum,
iya bang ada apa?” tanya sera ketika panggilannya sudah terhubung.
“Halo
ra, waalaikumsalam, ra ayah masuk rumah sakit asam lambungnya kambuh” ucap bang
ian yang membuat tubuh sera beku di tempat.
“Terus
keadaan ayah sekarang gimana bang?” Tanya sera sambil tak sengaja menitikkan
air mata.
Bagaimana
bisa asam lambung ayahnya naik. Memangnya ayah sera sudah makan apa. Uang
darimana untuk membayar biaya rumah sakit. Sera baru bekerja selama dua minggu
sedangkan gaji pertama pun belum sera terima. Seputar itukah pertanyaan yang
muncul dalam benak sera.
“Ayah
masih ditangani dokter ra” jawab bang ian.
“Ya
sudah sera ke rumah sakit sekarang bang” jawab sera sambil menghapus air
matanya, berusaha menyembunyikan kesedihannya dari bang ian.
“Gak
papa ra, ayah biar abang yang tunggu, kamu lanjut kerja aja”
“Gak
bang sera pingin kesana” keukeuh sera.
“Ya
sudah. Kalo gitu hati-hati ya ra”
“Iya
bang” panggilan terputus.
Sera
hendak berbalik menuju ke ruangan kang rio managernya, untuk meminta izin
pulang serta ke dapur untuk mengambil tasnya. Namun, tak sengaja dirinya
bertemu dengan akas yang baru saja datang dan hendak memasuki café.
“Ada
apa ra?” Tanya akas seakan tahu kondisi sera.
“Ayah
masuk rumah sakit, asam lambungnya kambuh. Aku izin ke rumah sakit ya kas?”
sera meminta izin pada akas selaku pemilik café.
Akas
mencerna ucapan sera lalu mengangguk “yaudah yuk gue anter ke rumah sakitnya”
sera menggangguk.
---
Setibanya
sera dan akas dirumah sakit tepat dengan dokter spesialis yang baru saja keluar
dari ruang pemeriksaan. Dokter menjelaskan perihal penyakit lambung ayah. Dan syukurlah
ayah masih bisa di tangani artinya asam lambungnya tidak begitu parah. Sera
lega mendengarnya. Namun, ayah perlu di rawat inap guna mendapatkan perawatan
yang lebih baik demi kesembuhannya.
Sejujurnya sera ingin sekali ayah mendapatkan perawatan
sebagimana mestinya. Namun, sera benar-benar tidak tahu bagaimana caranya ia
untuk membayar biaya rumah sakit. Bang ian pun sama halnya dengan sera, ia
sedang nganggur karena pekerjannya hanya seorang buruh, yang dicari saat sedang
dibutuhkan.
“Beri penanganan yang baik untuk kesembuhannya dok” kali
ini akas yang berbicara. Membuat sera langsung menatap akas.
“Baik kalau begitu, pasien akan di pindahkan ke kelas
rawat inap, saya permisi”.
Setelah
kepergian dokter sera menatap akas kembali.
“Gak
usah mikirin soal biaya rumah sakit, gue punya tabungan kok” ucap akas seolah
tahu bahwa sera meminta penjelasan.
“Tapi
kas, gantiinya gimana nanti?”
“Gak
usah dipikirin ra, yang penting ayah kamu sembuh” jawab akas.
“Makasih
ya kas, nanti kalo gue dapat uang, gue segera bayar sama lo” ucap bang ian.
“Iya
bang”
“Kalo
gitu gue mau ke toilet dulu” pamit bang ian seraya melenggang pergi meninggalkan
akas dan sera. Akas dan sera pun berjalan bersisian menuju tempat duduk.
“Makasih
ya kas, maaf aku ngerepotin kamu, gaji aku kerja di café gak usah di bayar, aku
nyicil itu buat gantiiin biaya rumah sakit bapak” pinta sera.
Akas
berhenti berjalan membuat sera ikut berhenti lalu menggeleng menandakan bahwa
ia tidak menyetuji ucapan gadis manis tersebut lalu menatapnya yang sedang
berdiri di hadapannya sekarang, mengangkat kedua tangannya untuk memegang kedua
bahu sera.
“Denger
aku ra, aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu”
Perasaan
sera becampur aduk antara bahagia dan terharu mendengar penuturan akas akan
perasaannya. Hingga sera menitikkan air mata. Pasalnya, keduanya tidak memiliki
hubungan karena sera yang merasa tahu diri, tidak pantas menjadi pacar seorang
akas anak yang terlahir di keluarga berada sedangkan dirinya masih harus
berusaha keras demi kelangsungan hidup.
Jujur,
sera sudah menolak pengakuan akas akan perasaannya dan menyuruhnya untuk
mencari wanita lain yang lebih pantas menjadi pacar akas. Namun akas menolak,
ia dengan berbaik hati sabar menunggu jawaban sera yang tak kunjung
terbalaskan.
SELESAI
###
Saya ucapkan terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.
Tinggalkan jejak berupa komentar, kritik dan saran.
Kerennnn🤗
BalasHapusKerenn nii
BalasHapusSuka suka👍😊
BalasHapusAaaaaa suka Akaass😍😍 gantung ya beb😟
BalasHapusBagusss ceritanya , cukup menginspirasi👍👍dilanjutttt
BalasHapusNext niww😍
BalasHapusBagus ceritanya sukaaa
BalasHapusMenarik nih ceritanya 👍 suka suka😍
BalasHapusBerbakat nihh
BalasHapusLanjutkan renii 😍
Good job renii
BalasHapus